Mencari alternatif menaikan nilai jual komoditi singkong

Singkong merupakan salah satu tanaman pangan yang kaya akan kandungan karbohidrat selain padi. Singkong banyak digunakan sebagai pemenuh kebutuhan pokok sebagai pengganti nasi . Persebaran tanaman singkong hampir merata di seluruh Indonesia. Persebarannya yang cukup merata tidak membuat nilai jualnya menjadi naik. Harga singkong terbilang sangat murah dikalangan petani dengan kisaran rata-rata Rp.1.000, – 2.000 masih jauh dari kata layak untuk kesejahteraan petani singkong. Bahkan kadang nilai jualnya bisa turun drastis sekitar Rp.500,- . Oleh karenanya tanaman ini biasanya hanya di tanam pada musiman tertentu saja sebagai tanaman sayur atau hanya untuk sekedar pagar pekarangan. Tanaman singkong sering dimanfaatkan hanya untuk diambil daunnya sebagai sayur. Memang kalau untuk daun singkong bisa memberi manfaat baik itu untuk konsumsi pribadi dan untuk dijual tidak membutuhkan waktu yang cukup lama. Lain halnya untuk mendapatkan umbi singkongnya diperlukan waktu yang cukup lama berbulan-bulan. Dan ketika dijual, harganya tidak sebanding dengan lamanya dari mulai tanam sampai panen.

Untuk itu agar singkong lebih memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi sebaiknya singkong jangan hanya dikembangkan  untuk bahan baku saja. Singkong bisa dijual dalam bentuk yang bermacam-macam . Kita bisa mengolahnya menjadi makanan-makanan yang lezat dan beraneka macam. Dimulai dari olahn yang sederhana seperti pembuatan gethuk, tape, kue jajan pasar dan lain sebagainya. Dari singkong kita juga bisa membuat sajian cemilan yang gurih dalam bentuk keripik. Namun untuk menaikan nilai jualnya kita bisa mencoba memberi rasa yang bervariasi dan bisa mengikuti selera saat ini. Dan yang terpenting kita harus memberikan kemasan yang menarik bisa para konsumen tertarik untuk membelinya.Pemanfaatan singkong selain yang ada di atas kita juga bisa memberi terobosan baru dengan membuat bioetanol menggunakan bahan dasar singkong. Namun dalam pembuatannya boleh dikatakan memerlukan biaya yang cukup tinggi. Memang sebanding sich dengan nilai jualnya juga lumayan tinggi. Jadi memang perlu kreatifitas dan inovasi kita  untuk bisa menaikan lagi nilai jual singkong lebih tinggi lagi

Cara pembuatan Bioetanol secara sederhana dari singkong

Perlu terobosan baru bagi para petani agar jangan mau menjual murah komoditi yang ia hasilkan dengan membuat berbagai olahan yang terbuat dari singkong. Petani bisa membuat usaha produksi olahan makanan , kue , cemilan dan masih banyak lainnya. Berbagai olahan makanan memang bisa dibuat dengan menggunakan bahan dasar singkong. Namun untuk inovasi baru singkong juga bisa dikembangkan menjadi bioetanol yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi ketimbang singkong hanya dijual sebagai bahan baku saja. Sebenarnya diperlukan suatu modal yang cukup besar memang untuk mengembangkan perusahaan yang mengolah singkong menjadi Bioetanol. Akan tetapi para petani singkong bisa mencoba cara yang cukup sederhana  untuk bisa membuat bioetanol sebanyak 10 liter. Nah bagaimana caranya bisa membuat bioetanol yang cukup simple bisa kita ikuti beberapa langkah berikut :

  • Pertama yang dilakukan adalah dengan mengupas sekitar 125 kg singkong dan kemudian cacah kecil-kecil.
  • Selanjutnya keringkan singkong yang sudah kita cacah dengan cara dijemur hingga kadar air yang ada berkisar 16 % atau buat menjadi gaplek.
  • Masukan 25 kg gaplek yang sudah kering ke dalam tangki stainless berkapasitas sekitar 120 liter dan tambahkan airhingga volumenya menjadi 100 liter, panaskan hingga berkisar sekitar 100 derajat celcius selama setengah jam . Jangan lupa untuk mengaduk-aduk hingga menjadi kental seperti bubur.
  • Dinginkan bubur gaplek yang telah dipanaskan kemudian masukan ke dalam tangki sakarifikasi (pengolahan pati menjadi glukosa). Setelah kondisi dingin kita bisa menambahkan ragi atau cendawan Aspergilus sekitar 10 liter untuk menguraikan bubur pati singkong
  • Setelah berjalan 2 jam kemudian bubur gaplek akan membentuk 2 lapisam yaitu lapisan air dan endapan gula. Gula yang berasal dari pati singkong tersebut bisa diaduk kembali dan dimasukan ke dalam tangki fermentasi.
  • Tutup tangki secara rapat untuk mengurangi kontaminasi dan Sacharomyces bisa bekerja mengurai glukosa secara optimal. Fermentasi yang dilakukan oleh Sacharomyces merupakan anaerob tanpa membutuhkan oksigen. Diamkan selama kurang lebih 2 hari. Setelah 2 hari akan menghasilkan 3 lapisan yang terdiri dari lapisan protein, air dan etanol. Namun untuk mendapatkkan kemurnian etanol tersebut kita dapat memisahkannya dengan melakukan penyulingan kembali hingga didapatkan kandungan etanol 95%.
Butuh bantuan! Klik disini

Kami siap membantu anda sekarang! Tim Specialist kami siap berdiskusi via Chat WA apabila sedang online, jika jaringan sedang sibuk segera kirim email ke: [email protected] untuk mendapatkan respon cepat via help desk..

Account Executive

Mei Dwi - Head Office

Online

Account Executive

Umu Hanifatul - Head Office

Online

Account Executive

Eva Arlinda - Head Office

Online

Account Executive

Andini Eryani - Head Office

Online

Mei Dwi - Head OfficeAccount Executive

Apa kabar bp/ibu, ada yg bisa saya bantu? 00.00

Umu Hanifatul - Head OfficeAccount Executive

Apa kabar bp/ibu, ada yg bisa saya bantu? 00.00

Eva Arlinda - Head OfficeAccount Executive

Apa kabar bp/ibu, ada yg bisa saya bantu? 00.00

Andini Eryani - Head OfficeAccount Executive

Apakah ada yang saya bisa bantu bapak/ibu? 00.00